Selamat Datang di Rembang Undercover

Situs Perahu Kuno

Situs Perahu Kuno ini berada di desa Pujulharjo, sekitar 100 meter dari jalan pantura

Hutan Manggrove

Hutan Manggrove ini berada di Desa Kaliuntu Kecamatan Rembang.

Tolak Pabrik Semen

Warga Demo menolak pendirian pabrik semen di pegunungan kendeng.

Goa Kare Pamotan

Berada di perbukitan kars timur kampung Palan dan Tajen. Bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan maupun jalan kaki

Sedekah Desa Pamotan

Gunungan yang dibuat dari hasil pertanian di Desa Pamotan diarak mengelilingi desa untuk memperingati sedekah desa.

Selasa, 22 September 2015

Satwa







Kamis, 10 September 2015

Arak-arakan Gunungan Hasil Panen

Mengarak gunungan hasil panen pertanian petani desa Pamotan. Sumber foto dari Group FB Pamotan Rembang

Gunungan Hasil Panen


Gunungan dari bahan-bahan hasil pertanian di Desa Pamotan. Sumber foto dari Group FB Pamotan Rembang


Barongan Ramaikan Sedekah Desa Pamotan


Sumber foto dari Group FB Pamotan Rembang

Sedekah Desa Pamotan

Arak-arakan Sedekah Desa Pamotan. Sumber Foto dari Group FB Pamotan Rembang




Sabtu, 05 September 2015

RSUD Sotrasno Rembang


Rembang- Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Soetrasno Rembang pertama berdiri pada masa penjajahan Belanda, terletak di Belakang Kejaksaan Negeri Rembang (sekarang Panti Wreda). Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 1945 RSUD dr. R. Soetrasno Rembang dipindahkan di Jl. R. Saleh No 3 Rembang (sekarang Puskesmas Rembang I), dan dokter rumah Sakit pertama kali pada waktu itu adalah dr. R. Soetrasno. Sejak tahun 2004 nama dokter tersebut diabadikan sebagai nama rumah sakit sampai dengan saat ini. Tepatnya pada tanggal 10 Pebruari 1955 pada masa pemerintahan Bupati Rembang Wongso Diredjo Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Soetrasno Rembang menempati gedung resmi yang beralamat di Desa Kabongan Kidul Kecamatan Rembang, dan pada tanggal bulan dan tahun tersebut ditetapkan sebagai tanggal berdirinya RSUD Rembang.
Pada tahun 1979 Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Soetrasno Rembang adalah Rumah Sakit  tipe D. Kemudian pada tahun 1983 meningkat menjadi Rumah Sakit Tipe C dengan Susunan Organisasi Tata Kerja (SOTK) yang baru berdasarkan keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Rembang No. 061/395/Th.1983.
Berdasarkan keputusan Bupati Rembang Nomor 192 Tahun 2004 Rumah Sakit Umum Daerah Rembang (RSUD Rembang) berubah nama menjadi Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Soetrasno Rembang tepatnya pada tanggal 5 Mei 2004. Nama Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Soetrasno diambilkan dari nama dokter yang pertama kali di RSUD Rembang pada waktu itu. Pengelolaannya dibawah kendali Pemerintah Daerah Kabupaten Rembang.
Mulai tahun sembilan puluhan diadakan upaya perbaikan mutu pelayanan secara intensif dengan penerapan Total Quality Management, Gugus Kendali Mutu. Pada Tahun 1998 RSUD dr. R. Soetrasno Rembang berhasil memperoleh sertifikat Akreditasi, dan pada tahun 2010 RSUD dr. R. Soetrasno juga telah bersertifikasi ISO 9001:2008. Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan RSUD. dr. R.Soetrasno menjalin ikatan kerjasama dengan beberapa institusi pendidikan kesehatan. Pada saat ini dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pelayanan RSUD dr. R. Soetrasno Rembang telah meningkatkan ikatan kerjasamanya dengan Fakultas Kedokteran UGM dan UNDIP. Untuk meningkatkan akses pelayanan bagi masyarakat Rembang, RSUD dr. R. Soetrasno Rembang juga menjalin ikatan kerjasama dengan rumah sakit-rumah sakit lain misalnya dengan RSUP dr. Sardjito Yogyakarta, RSUP dr. Kariadi Semarang. (Sumber: http://rsud.rembangkab.go.id/)

PONDOK PESANTREN RAUDLATUTH THOLIBIN REMBANG


Rembang- Berdiri pada tahun 1945, pasca masa pendudukan Jepang, pesantren ini semula lebih dikenal dengan nama Pesantren Rembang. Pada awal masa berdirinya menempati lokasi Jl. Mulyo no. 3 Rembang saja namun seiring dengan perkembangan waktu dan berkembangnya jumlah santri,

pesantren ini mengalami perluasan sampai keadaan seperti sekarang. Tanah yang semula menjadi lokasi pesantren ini adalah tanah milik H. Zaenal Mustofa, ayah dari KH. Bisri Mustofa pendiri Pesantren Rembang. Kegiatan belajar mengajar sempat terhenti beberapa waktu akibat ketidakstabilan kondisi waktu itu yang mengharuskan KH. Bisri Mustofa harus mengungsi dan berpindah-pindah tempat sampai tahun 1949.
Metode Belajar Mengajar
Metode pengajaran yang dikembangkan oleh pesantren ini pada awal berdirinya adalah murni salaf (ortodoks). Pengajaran dilakukan dengan cara bandongan (kuliah umum) dan sorogan (privat). Keduanya diampu langsung oleh KH. Bisri Mustofa sendiri. Ketika jumlah santri meningkat dan kesibukan KH. Bisri Mustofa bertambah maka beberapa santri senior yang telah dirasa siap, baik secara keilmuan maupun mental, membantu menyimak sorogan. Pengajian bandongan terjadwal dalam sehari semalam pada masa KH. Bisri Mustofa meliputi pengajian kitab Alfiyyah dan Fath al-Mu’in sehabis maghrib, Tafsir Jalalain setelah jama’ah shubuh, Jam’ul Jawami’ dan …. Pada waktu Dhuha, selain itu KH. Bisri Mustofa melanjutkan tradisi KH. Cholil Kasingan mengadakan pengajian umum untuk masyarakat kampung sekitar pesantren tiap hari Selasa dan Jum’at pagi.
1967, tiga tahun setelah putra sulung KH. Bisri Mustofa, yakni KH. M. Cholil Bisri pulang dari menuntut ilmu, KH. Cholil Bisri mengusulkan kepada ayahnya untuk mengembangkan sistem pengajaran model madrasi dengan kurikulum yang mengacu kepada kurikulum madrasah Mu’allimin Mu’allimat Makkah di samping pengajian bandongan dan sorogan. Usul ini disepakati oleh K.Bisri sehingga didirikanlah Madrasah Raudlatuth Tholibin yang terdiri dari dua jenjang yakni I’dad (kelas persiapan) waktu tempuh 3 tahun dan dilanjutkan dengan Tsanawi (kelas lanjutan) waktu tempuh 2 tahun. Pengajarnya adalah kyai-kyai di sekitar Rembang dan santri-santri senior.
1970, putra kedua beliau yakni KH. A.Mustofa Bisri, sepulang dari menuntut ilmu didesak oleh santri-santri senior untuk membuka kursus percakapan bahasa Arab. Desakan ini dikarenakan KH. Bisri Mustofa dalam banyak kesempatan hanya berkenan ngobrol dengan santri senior dengan menggunakan bahasa Arab. Dengan ijin KH. Bisri Mustofa kursus ini didirikan dengan standar kelulusan ‘kemampuan marah dalam bahasa Arab’. Pada tahun ini pula didirikan Perguruan Tinggi Raudlatuth Tholibin Fakultas Da’wah, namun karena tidak mendapatkan ijin dari pemerintah maka Perguruan Tinggi ini terpaksa ditutup setelah berjalan selama 2 tahun.
Fase Kedua
Sepeninggal KH. Bisri Mustofa, 1977, pengajaran di pesantren diampu oleh ketiga putra beliau. Madrasah tetap berjalan. Pengajian bandongan Alfiyah dan satu judul kitab fiqh yang berganti-ganti sehabis Maghrib diampu oleh KH. Cholil Bisri untuk santri-santri senior serta KH. M. Adib Bisri untuk santri-santri yunior, Tafsir Jalalain setelah Shubuh diampu oleh KH. Mustofa Bisri untuk semua santri, waktu Dhuha KH. Cholil Bisri mengajar Syarah Fath al-Muin dan Jam’ul Jawami’ untuk santri senior. Pengajian hari Selasa diampu oleh KH. Cholil Bisri dengan membacakan Ihya’ Ulumuddin. Pengajian Jum’at diampu oleh KH. Mustofa Bisri dengan membacakan Tafsir Al-Ibriz. Pada saat inilah mulai diterima santri putri.
Madrasah tetap seperti semasa KH. Bisri Mustofa yaitu dimulai sejak pukul 10.00 sampai dengan pukul 13.00. Kurikulumnya mengacu pada Madrasah Mu’allimin Mu’allimat pada masa KH. Cholil bersekolah di sana, dengan beberapa tambahan yang disesuaikan dengan perkembangan masyarakat secara tambal sulam misalnya pernah ditambahkan materi sosiologi untuk Tsanawiyah, materi bahasa Indonesia untuk I’dad, materi bahasa Inggris untuk Tsanawiyah dan lain sebagainya. Pada tahun 2003, atas prakarsa Bisri Adib Hattani putra KH. M. Adib Bisri, dengan seijin KH. Cholil Bisri dan KH. Mustofa Bisri, diadakanlah madrasah yang masuk sore hari untuk santri-santri putra yang menempuh ‘sekolah umum’ pada pagi hari. Madrasah sore ini terdiri dari 5 tingkatan yaitu 2 tingkat I’dad dan 3 tingkat Tsanawiy. Kurikulumnya merupakan perpaduan dari Madrasah Diniyah Nawawiyah (terkenal dengan nama Madrasah Tasikagung) dan Madrasah Raudlatuth Tholibin Pagi. Kelas 3 Tsanawiyah sore beban pelajarannya setara dengan kelas 1 Madrasah Tsanawiyah pagi.
Kondisi Kontemporer
Pada tahun 2004, KH. Cholil Bisri meninggal dunia. Beberapa pengajian yang semula diampu oleh beliau sekarang diampu oleh santri-santri tua. KH. Makin Shoimuri melanjutkan pengajian bandongan ba’da Maghrib dan waktu Dluha. KH. Syarofuddin melanjutkan pengajian bandongan ba’da Shubuh selain membantu mengajar santri yunior selepas Maghrib. Pengajian bandongan santri yunior ba’da Maghrib diampu oleh beberapa orang santri senior yang dianggap sudah mumpuni. Santri senior yang sudah mengajar di madrasah dibimbing oleh KH. Mustofa Bisri dengan pengajian setiap malam selepas Isya’. Kecuali ‘santri pengajar madrasah’ semua santri mulai jam 21.00-23.00 diwajibkan berkumpul di aula-aula untuk nderes (istilah untuk mengulang pelajaran yang sudah diterima) bersama-sama.
Hari Selasa dan Jum’at semua pengajian bandongan diliburkan. Malam Selasa seluruh santri diwajibkan untuk mengikuti munfarijahan dan latihan pidato selepas maghrib. Malam Jum’at selepas maghrib semua santri diwajibkan mengikuti keplok, yaitu membaca hapalan seribu bait Alfiyyah bersama-sama diiringi tepuk tangan. Setelah acara tersebut, sekitar pukul 22.00-23.00 diadakan musyawarah kitab yang diikuti oleh seluruh santri.
Pengajian untuk umum setiap hari Selasa yang semula diampu oleh KH. Cholil Bisri sekarang dilanjutkan oleh putra beliau yaitu KH. Yahya C. Staquf yang khusus diminta pulang dari Jakarta untuk membantu mengurusi pesantren. Pengajian hari Jum’at diampu oleh KH. Mustofa Bisri. Apabila keduanya berhalangan mengajar pada hari-hari tersebut maka KH. Syarofuddin diminta untuk menggantikan mengajar.
Santri yang berjumlah sekitar 700 orang membuat manajemen pengelolaan pun semakin kompleks. Untuk persoalan harian santri dibentuk satu kepengurusan yang terdiri atas santri-santri senior yang sudah magang mengajar. Kepengurusan ini dikoordinatori oleh seorang ketua yang dipilih oleh semua santri setiap dua tahun sekali. Santri-santri pengajar pengajian bandongan menjadi pengawas bagi berlangsungnya proses kepengurusan selama dua tahun sebagai dewan penasehat. Kesemuanya di bawah bimbingan langsung KH. Mustofa Bisri dan KH. Yahya C. Tsaquf yang menggantikan kedudukan ayahnya. Para santri yang mengikuti Pengajian Selasa dan Jum’at pagi biasa disebut dengan nama Jama’ah Seloso-Jemuah pun memiliki kepengurusan tersendiri yang mengurusi bantuan-bantuan kepada anggota jama’ah, ziarah-ziarah, peringatan hari-hari besar Islam dan lain sebagainya yang terkait langsung dengan masyarakat. (Sumber: Sastra Santri)