Selamat Datang di Rembang Undercover

Situs Perahu Kuno

Situs Perahu Kuno ini berada di desa Pujulharjo, sekitar 100 meter dari jalan pantura

Hutan Manggrove

Hutan Manggrove ini berada di Desa Kaliuntu Kecamatan Rembang.

Tolak Pabrik Semen

Warga Demo menolak pendirian pabrik semen di pegunungan kendeng.

Goa Kare Pamotan

Berada di perbukitan kars timur kampung Palan dan Tajen. Bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan maupun jalan kaki

Sedekah Desa Pamotan

Gunungan yang dibuat dari hasil pertanian di Desa Pamotan diarak mengelilingi desa untuk memperingati sedekah desa.

Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juni 2016

Wisata Eksotik Rembang

Goa Kare Pamotan
Pantai Caruban, Sumber: cbfmrebang

Pantai Karang Jahe

Makam RA Kartini, sumber: wisatarembang

Hutang Manggrove Banggi

Wisata BuluMantingan, Sumber: MediaRembang

Pantai Kartini Rembang atau Pantai Dampo Awang, Sumber: Flickr

Makam Sunan Bonang Sumber: wikipedia

Goa Pasucen, Sumber; rembanginfo

Wisata Sumber Semen Sale, Sumber:rembanginfo

Situs Perahu Kuno


Kamis, 21 Januari 2016

Perahu Kuno di Kabupaten Rembang

REMBANG- Pada tahun 2008, tepatnya pada hari Sabtu (26/7),  pekerja yang sedang membuat tambak dikejutkan dengan sebongkah kayu yang terpendam dalama tanah. Karena penasaran, akhirnya para pekerja terus menggali dan mengikuti alur kayu yang terpendam. Lama-kelamaan kayu yang terpendam dalam tersebut mulai kelihatan dengan bentuk rangka kapal.
Dari hasil identifikasi, perahu tersebut berasal dari sekitar abad ke 7 dan 8 setara dengan pembangunan Candi Borobudur. Ini adalah penemuan kapal kayu yang paling komplit dan bisa jadi yang tertua di Indonesia.
Dan penemuan tersebut terlengkap di Asia Tenggara karena kondisi kapal tersebut pada lambung bawahnya masih utuh, dibanding temuan di sejumlah wilayah lain seperti di Sumatera dan juga di negara lain seperti di Malaysia dan Filipina.
Lokas penemuan perahu kuno ini berada di Desa Punjulharjo, Kabupaten Rembang.  Perahu kuno ini memberi pengetahuan bagaimana teknologi itu digunakan, mulai dari papan-papan yang dilengkapi dengan tambuku yaitu tonjolan pada bagian dalam dengan lubang-lubang untuk mengikat berbentuk kotak.
Juga ditemukan materi lain pembentuk perahu seperti gading-gading gajah yang membuat bentuk melengkung dibagian lunas perahu, ikatan antara papan dengan gading pada tambuku, bagian haluan, bagian buritan, lunas, dan ditempat lainnya.
Bersamaan dengan perahu kuno tersebut, didalamya juga ditemukan pula kapak, tulang, tongkat ukir, tutup wakul dari kayu, pecahan mangkuk dan tembikar lainnya, juga tempurung kelapa serta kepala patung dari batu.
Demi perawatan, saat ini lokasi penemuan kapal kuno masih terbuka untuk umum. Namun perahu kuno yang berada di tanah tidak bisa lihat langsung karena ditutup dengan terpal guna perawatan dan menghindarkan dari tangan-tangan pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

Rabu, 20 Januari 2016

Goa Joglo, Goa Jagung, dan Goa Nganten, Sejarah yang Terpinggirkan

Goa Pasucen yang berada di Desa Pasucen Kabupaten Rembang

REMBANG- Berada dikawasan perbukitan, sebagian daerah di Kabupatern Rembang menyimpan obyek wisata alam yang belum terekspos masyarakat luas, seperti Goa Kare yang ada di Desa Pamotan. Satu lagi Goa yang cantik dan menarik yang berada di Desa Pasucen, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Goa Joglo, Goa Jagung dan Goa Nganten.

Masyarakat sekitar mengenal goa tersebut sebagai tempat bertempurnya Sunan Bonang dengan Blancak Ngilo. Blancak Ngilo yang kalah akhirnya bersembunyi di Desa Pasucen. Dan Sunan Bonang yang waktu itu mengejarnya tidak bisa menemukannya meski sudah bertanya pada warga sekitar.

Bukti dan peninggalan sejarah itu masih tersimpan di dalam goa, yaitu dalam bentu arca sepasang pengantin. Yang konon ceritanya arca pengantin ini adalah kutukan Sunan Bonang yang marah kepada warga yang sedang melakukan resepsi pernikahan karena tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Sunan terkait keberadaan Blancak Ngilo.

Namun, karena tidak terawatnya peninggalan sejarah tersebut, kondisi arca sangat memperihatinkan. Pemerintah setempat harusnya bisa mencari alternative agar peninggalan sejarah tersebut bisa tetap terawatt  dan lokasi goa bisa menjadi wisata bagi masyarakat luas.

Sabtu, 09 Januari 2016

Goa Kare, Potensi Wisata Desa Pamotan

REMBANG-Di Desa Pamotan, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, tersimpan goa alam yang benar-benar masih alami. Orang-orang sekitar menyebutnya Goa Kare. Goa yang berada di perbukitan kars ini tidak begitu banyak diketahui orang, karena memang tidak ada pengelolaan dari warga sekitar dan pemerintah setempat.

Untuk menuju Goa Kare, pengunjung harus menyusuri ladang-ladang milik petani. Jalan untuk menuju lokasi, juga harus melewati jalur bekas aliran air. Meskipun berada dan menyelinap di perbukitan dan ladang petani, pengunjung dijamin terpesona dengan keindahan alamnya.
Kedalaman Goa Kare sekitar 10-20 meter yang bisa dijangkau, namun menurut warga sekitar, kedalaman Goa Kare bisa tembus sampai SMP 1 Pamotan yang berjarak sekitar 1 kilometer. Tidak ada tiket masuk untuk menikmati Goa Kare, karena memang Goa Kare belum dibuka sebagai wisata umum.
Pemerintah setempat harusnya segera mengambil langkah cepat untuk mengembangkan wisata Goa Kare ini, selain mengangkat perekonomian warga di sekitar Goa Kare, juga menambah jumlah lokasi wisata alam yang ada di Kabupaten Rembang.

Di sekitar lokasi Goa Kare banyak orang yang menambang batu kars sebagai lahan pekerjaan. Jika hal ini terus dilakukan, lama-kelamaan akan mengakibatkan hilangnya perbukitan kars. Menjadikan obyek wisata, lebih bermanfaat untuk masa depan daripada hanya dimanfaatkan batunya yang berdampak pada pengerusakan alam. Keberadan Goa Kare yang tidak terawat membuat goa ini menjadi rumah hewan-hewan liar, seperti ular, kelelawar dan binatang liar lainnya. Dengan keberadaan hewan-hewan ini menjadikan penghuni khas Goa Kare.

Mulut Goa Kare juga tidak terlalu besar, setelah mulai memasuki goa, akan terlihat keindahan batu kars yang terbentuk alami. Di dalam goa akan terlihat pancaran sinar matahari yang terpancar dari sela-sela langit goa. Pengunjung juga akan tertakjub dengan penghuni Goa Kare yang banyak, yaitu kelelawar. Bau menyengat dalam goa dari sisa-sisa kotoran kelelawar akan menjadikan parfum khas Goa Kare. Sebagai petualang, rasanya kurang menantang kalau belum menikmati dan menyusuri Goa Kare. Mulut Goa Kare juga tidak terlalu besar, setelah mulai memasuki goa, akan terlihat keindahan batu kars yang terbentuk alami. Di dalam goa akan terlihat pancaran sinar matahari yang terpancar dari sela-sela langit goa. Pengunjung juga akan tertakjub dengan penghuni Goa Kare yang banyak, yaitu kelelawar. Bau menyengat dalam goa dari sisa-sisa kotoran kelelawar akan menjadikan parfum khas Goa Kare. Sebagai petualang, rasanya kurang menantang kalau belum menikmati dan menyusuri Goa Kare. [Rbg/003]

Situs Perahu Kuno


Demi Keselamatan, Perhutani Larang Warga Memasuki Goa Kare

REMBANG- Goa Kare yang berada di Desa Pamotan, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mendadak ramai diberbagai media  dan media sosial. Kemunculan Goa Kare ini karena banyaknya media yang memberitakan keberadaan Goa Kare yang ada di Dukuh Tajen ini sebagai obyek wisata baru setelah diadakannya susur goa oleh komunitas pecinta alam setempat.

Sebenarnya Goa Kare sudah lama ada dan bukan temua goa baru, hanya saja tidak banyak orang yang tahu keberadaan Goa Kare. Selain tidak terawatnya goa, juga pada tahun-tahun sebelumnya banyak masyarakat yang menggali batu kapur sebagai lapangan pekerjaan. Penggalian batu kapur yang berada di sekitar lokasi Goa Kare meyebabkan dinding goa menjadi rapuh dan rusak.

Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, pihak perhutani menyarankan agar masyarakat yang tidak  memasuki Goa Kare, karena membahayakan keselamatan. Bahkan pihak perhutani juga menempelkan plang larangan untuk tidak memasuki Goa Kare tersebut demi keselamatan bersama.

Asisten Perhutani KPH Kebonharjo, Suyanto menjelaskan soal larangan memasuki Goa Kare karena batu goa yang mudah lapuk dan bergeser. Selain itu, bongkahan batu yang ada di goa juga rawan runtuh.

Sebelumnya, pada Rabu (2/1)  diadakan sarasehan terbatas antara pencinta alam dan pihakk perhutani yang menghasilkan beberapa kesimpulan, antara lain yaitu  pertama Perhutani akan menyediakan bibit untuk ditanam di kawasan Goa Kare Pamotan. Kedua, Komunitas akan menanam bibit tanaman yang disiapkan perhutani. Ketiga, Perhutani dan komunitas pecinta alam akan sering mengadakan event tanam pohon dikawasan Goa Kare Pamotan. Dan keempat, Komunitas, Perhutani, dan masyarakat secepatnya akan menggelar sarasehan yang membahas terkait masa depan Goa Kare Pamotan.

Bagaimanapun, Goa Kare tetap menjadi surga alam yang tersembunyi, masyarakat sekitar pasti menginginkan Goa Kare tetap ada dan lestari meskipun tidak dijadikan obyek wisata yang dikomersilkan. Sebagai warga Pamotan, saya tetap mengharapkan yang terbaik untuk Goa Kare dan perbukitan kars yang ada di sekitar Goa Kare. Hidup alamku dan lestari selalu.[rbg/003]

Jumat, 08 Januari 2016

Sejarah Singkat Sunan Bonang

REMBANG- Sunan Bonang yang mempunyai nama asli Syeh Makhdum Makhdum Ibrahim ini merupakan seorang wali 9 yang termashur diperiode wali ke 3 . Dalam penyebaran syiar islam di tanah jawa terjadi 3 periode wali, yang sampai saat ini dikenali wali 9 oleh khayalak umum. Sunan Bonang merupakan putra dari seorang wali juga, yaitu Sunan Ampel. Ibu Sunan Bonang bernama Dewi Candra Wati atau dalam karangan cerita jawa sering disebut nyai ageng manila yang merupakan Sang Putri kerajaan.

Dari kecil sunan bonang telah mendapatkan pelajaran dan didikan yang luar biasa dari seorang ayahnya yang merupakan seorang tokoh ulama yang sakral. Untuk menjadi seorang ulama maupun wali tentunya tidaklah mudah, sunan bonang mendapatkan tempa-an yang istimewa dari ayahnya yaitu sunan ampel.

Sesampai waktu remaja sunan bonang dan raden paku diceritakan mendalami ilmu agama sampai kenegeri seberang yakni negeri pasai dan sekitarnya. Bersama-sama keduanya menimba ilmu ke syeh maulanan ishaq yang merupakan ayah kandung dari sunan giri. Selain itu mereka berdua juga menuntut ilmu ke ulama besar yang kebetulan berdakwah dan menetap di negeri pasai. Ulama-ulama tersebut berasal dari negara baghdad, mesir, iran, arab yang merupakan ulama ahli tasawuf.

Dalam dakwahnya sunan bonang sangatlah luwes. Seperti halnya para wali lainya yang mempunyai strategi dakwah yang rata-rata menyentuh hati rakyat dengan menyeimbangkan kondisi mental dan sosial dari lingkungan saat itu. Sunan Bonang dalam dakwahnya memanfaatkan kesenian yang ada di wilayah tuban. Kebetulan pada masa itu kesenian disana yaitu sandur/sindiran/tayuban. Adat kesenian tersebut merupakan kesenian alat tradisional dengan mengiringi tembang-tembang jawa. Dengan kecerdikan dan kebijaksanaan sebagai sang wali, sunan Bonang pun bisa mengkondisikan masyarakat sekitar dengan tujuan dakwahnya dalam mneyebarkan agama islam. Beliau pun menciptakan gending [lagu tradisional] sendiri yang menggunakan irama jawa dan perpaduan syiar agama islam, nama gending tersebut yaitu “Tombo Ati” yang sampi saat ini populer dan dikenali masyarakat luas sampai luar jawa dengan versi bahasa indonesianya yaitu “obat hati”. Selain gending/lagu tersebut juga masih banyak gending-gending jawa lainya yang diciptakan oleh sunan bonang dengan perpaduan ajakan untuk masuk islam dan menjalankan perintah-perintah serta larangan agama melalui media musik tsb.

Wisata Hutan Manggrove Kabupaten Rembang






Sabtu, 05 September 2015

Taman Dampo Awang

Rembang-Dampo Awang Beach atau dulu dikenal dengan nama Taman Rekreasi Pantai Kartini (TRPK) kini berganti nama "Dampo Awang Beach" Adalah sebuah taman dan pantai yang terletak di Kota Rembang, tepat di sisi utara jalur pantura. Sebelum pengelolaannya diserahkan ke pihak swasta, taman ini bernama Taman Rekreasi Pantai Kartini (TRPK) yang kemudian diganti dengan nama Dampo Awang Beach. Penggantian nama dilakukan untuk membedakan dengan Pantai Kartini di Jepara.
"Dampo Awang Beach" atau nama lamanya TPRK adalah salah satu tempat tujuan wisata yang berlokasi di Kabupaten Rembang yang sudah dikenal oleh masyarakat di wilayah ini dan daerah-daerah sekitarnya sejak zaman penjajahan Belanda.[1] Pada zaman kolonial Belanda, taman itu di samping digunakan sebagai tempat rekreasi juga digunakan untuk mengawasi lalu lintas laut di sekitar perairan Rembang. Di tempat itu terdapat bangunan kuno yang diperkirakan sebagai tempat pertemuan dan pesta orang-orang Belanda.

Menurut informasi dari Dinas Pariwisata Rembang, di atap bangunan ini pernah ditemukan tulisan angka tahun pembuatan gedung tersebut, yakni tahun 1811. Seandainya hal ini benar maka kemungkinan gedung ini dibuat pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal HW Daendels (1808-1811) yang terkenal sebagai pemrakarsa pembangunan jalan Anyer - Panarukan itu. Kabupaten Rembang merupakan salah satu kota yang dilintasi jalan tersebut.[2]
Sejak 1945, gedung ini dimanfaatkan oleh jemaat umat Kristen Protestan untuk beribadah. Namun karena semakin lama jemaatnya berkurang, gedung tersebut selanjutnya difungsikan sebagai taman bacaan dan perpustakaan pemerintah daerah. Pada akhir 2001, atap bangunan tersebut roboh. Yang tersisa hanya tiang penyangga dan temboknya.
Melihat kondisi gedung bersejarah tersebut rusak parah, Pemkab melakukan berbagai upaya agar bangunan tersebut dapat berdiri kembali. Setelah dilakukan renovasi, gedung tersebut oleh Pemkab selanjutnya akan digunakan sebagai gedung pertemuan dan pusat promosi dan pengembangan wisata kota penghasil garam ini.
Jika dilihat perkembangannya, Taman Rekreasi Pantai Kartini ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Yakni, pada 1979 di tempat wisata tersebut dibangun sarana bermain anak-anak. Selanjutnya pada 1992 diadakan penataan lagi dengan menambah fasilitas seperti gardu pandang dan pembangunan talud pantai untuk menarik minat pengunjung atau wisatawan.(sumber:Wikipedia)